Tradisi Unik Menjelang Hultah NWDI “Penyambung Silaturrahim Nahdliyin”

NW ONLINE – Tradisi menjelang Hultah Madrasah NWDI. Setiap menjelang kegiatan gawe besar tahunan organisasi terbesar di NTB, membuat tetaring hultah kita mengenalnya adalah sebuah tradisi yang sudah melekat dalam diri jamaah NW.

Hal ini merupakan salah satu tempat kita melihat kekompakan dan semangat gotong royong yang luar biasa.

Tradisi semangat gotong royong (bersama-sama) ini merupakan tradisi yang ditanamkan oleh pendiri madrasah NWDI, madrasah NBDI dan organisasi Nahdlatul Wathan ( Maulanasyaikh TGKH.M.Zainuddin Abdul Madjid al Ampenani) baik dalam membangun tempat ibadah, sekolah dan madrasah, tempat majlis ta’lim dan lain-lain, kepada jamaahnya.

Tetaring hultah ini terbuat dari Pelapah daun kelapa yang sudah diulat sebagai atap dan bambu sebagai tiang adalah kesederhaan dari tetaring. Ada beberapa nilai pendidikan yang dapat kita petik dari membuat tetaring yaitu:

Semangat gotong royong.

Membuat tetaring persiapannya tentu beberapa hari sebelumnya, dari masing-masing desa/kecamatan, jamaah mulai dari bersama-sama menyumbangkan pelapah daun kelapa, bersama-sama memetik pelapah daun kelapa, kemudian bersama-sama mengulat daun kelapa.

Setelah bahan dari pelapah daun kelapa sudah jadi, selanjutnya dari kalangan jamaah ada yang menyumbangkan bambu atau iuran untuk membeli bambu bagi yang tidak memiliki bambu. Sembari menunggu hari pembuatan tetaring diarena hultah, jamaah selanjutnya bersama-sama mengantar pelapah daun kelapa yang sudah diulat dan bambu yang sudah disiapkan ke arane pembuatan tetaring.

Pada hari pembuatan tetaring selanjutnya masing-masing desa( pimpinan ranting pengurus nw) mengutus jamaah beramai-ramai dari berbagai desa sepulau lombok untuk hadir membuat tetaring di arena hultah tsb.

Silaturrahim

karena gotong royong memang sudah terjalin dari mempersiapkan bahan tetaring, tentu dari itu sudah terjalinnya silaturrahmi lingkup desa (anak ranting). Namun tak hanya itu, pada saat pembuatan tetaring diarena hultah juga cakupan silaturrahmi tentu lebih luas, karena jamaah datang dari berbagai desa.

Sehingga tegur sapa, saling mambantu dan saling berbagi antar jamaah baik dari desa masing-masing dan dari desa lain terjalin antar jamaah yang satu dengan yang lainnya.

Berbagi/shodaqoh.

menyumbang baik dalam bentuk bahan dan dana merupakan salah satu ciri khas warga NW. Hal demikian merupakan kebiasaan yang ditanamkan sejak awal mula terbentuknya organisasi NW oleh pendirinya. Tentu dengan prinsip dasar yaitu agar kita semua bisa menabung untuk urusan akhirat.

Sehingga dalam hal apapun yang diperlukan untuk keperluan dan kemajuan agama dan organisasi, jamah NW selalu aktif menyisihkan rizkinya baik dalam bentuk harta dan benda yang akan dibagi atau dishodaqohkan seperti halnya pada pembuatan tetaring ini.

Pemanfaatan bahan Tetaring.

Terbuat dari pelapah kelapa dan bambu, sehingga pemanfaatannya tentu bukan hanya sebagai tempat berteduhnya jamaah pada acara puncak peringatan hultah madrasah NWDI saja. Bahan terutama bambu juga bisa digunakan sebagai penunjang pembangungan baik dilingkungan pondok pesantren atau ditempat lainnya setelah dibongkar nantinya.

Ini tentu menambah aliran amal jariah bagi warga yang sudah menyisihkan rizkinya baik dalam bentuk harta dan bahan untuk pembuatan tetaring tsb. Selamat dan sukses Hultah Madrasah NWDI ke-87. | Sumber: SMK Khairul Fatihin NW

Mungkin kamu suka